Fenomena mengenai anak usia dini yang semakin berkembang menyebutkan bahwa terdapat bermacam-macam karakteristik anak usia dini yang berbeda dalam hal kemampuan literasi (baca-tulis).

Beberapa survei yang telah dilakukan oleh penulis memperlihatkan adanya perbedaan antara beberapa anak di Taman Kanak-kanak. Sebagian dari mereka memiliki kemampuan literasi yang lebih tinggi dari teman sebayanya, sebagian sama dan sebagian lagi lebih rendah dari teman sebayanya.

Beberapa anak yang berusia kurang dari 5 tahun dapat membaca dan menulis dengan lancar. Mereka dapat membaca buku cerita bergambar yang dibawakan oleh peneliti dengan tanpa mengeja dan tidak tersendat sendat. Hasil tulisan dari mereka pun tidak terdapat huruf yang hilang dalam setiap kata yang dituliskannya, meski terkadang terdapat pencampuaran huruf besar dan kecil.

Keterlibatan Orangtua Dalam Perkembangan Literasi Anak Usia Dini

Photo Credits: planningwithkids.com

Jika dibandingkan dengan teman seusianya, anak-anak ini memiliki kemampuan yang lebih baik dari teman sebayanya. Kondisi yang berbanding terbalik juga terjadi di beberapa anak, yaitu pada mereka yang berusia 6 tahun ke atas belum dapat membaca dan menulis dengan baik dan lancar.

Dalam kemampuan membaca, mereka masih memerlukan bimbingan dalam mengeja huruf dan juga tidak menghafal seluruh hurf alphabet. Anak-anak ini sering merasa kesulitan mengingat bentuk dan bunyi huruf, sehingga mereka tidak dapat membunyikan (membacakan) juga tidak dapat menuliskannya.

Berdasarkan hasil interviu awal yang dilakukan oleh peneliti kepada anak atau orangtua yang bersangkutan, 3 dari 5 anak mengatakan bahwa ibulah yang banyak berperan dalam mengajarkan kemampuan literasi dan 1 dari 5 anak mempunyai ibu yang banyak meluangkan waktu di rumah yang berkewajiban untuk mengajarkan literasi. Berdasarkan hasil tersebut, dapat dikatakan orangtua (dalam hal ini adalah ibu) cukup berperan dalam perkembangan literasi anak.

Fadriyani (2010) menyebutkan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan literasi, yaitu intelegensi, jenis kelamin, perkembangan motorik, kondisi fisik, kesehatan fisik, lingkungan perbedaan status sosial dan keluarga, termasuk didalamnya adalah keterlibatan orangtua. Reese dkk (2010) Menyimpulkan bahwa keterlibatan orangtua memiliki peranan yang sangat besar dalam mengembangkan kemampuan bahasa dan literasi anak usia dini.

Menurutnya, terdapat 3 hal yang dapat dilakukan orangtua dalam meningkatkan bahasa dan literasi anak usia dini. Pertama adalah, orangtua membaca buku bersamasama dengan anak, kedua adalah orangtua melakukan percakapan dengan anak, dan yang ketiga adalah orangtua-anak melakukan aktivitas menulis bersama-sama. Ketiganya merupakan cara yang efektif untuk mengembangkan kemampuan bahasa dan literasi anak usia dini.

Laint-Laurent (2005) menyimpulkan bahwa untuk melakukan “home literacy”, orangtua dan guru harus terlibat secara langsung guna meningkatkan kemampuan literasi anak tahun pertama di sekolah dasar. Dalam peneletian ini juga desebutkan bahwa kegiatan rumah yang menyenangkan yang diciptakan oleh orangtua dan usaha orangtua memberikan efek yang positif dalam mengembangkan literasi anak. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh



Park (2008) bahwa bentuk keterlibatan/peran orangtua merupakan salah satu dari tiga komponen yang positif dalam meningkatkan literasi dasar anak prasekolah di hampir semua negara. Ia juga menjelaskan bahwa keterlibatan/peran orangtua memliki pengaruh yang positif dalam pengembangan kemampuan literasi anak.

Deborah (2006) yang meneliti tentang peranan ibu dalam perkembangan literasi anak juga menjelaskan bahwa ketertarikan anak dalam membaca mempunyai hubungan yang kuat dengan cara yang digunakan ibu dalam membacakan buku. Penelitian lain yang telah dilakukan oleh 8 Stephenson (2008), memperlihatkan bahwa literasi rumah (membaca buku, aktivitas pmbelajaran dan jumlah buku), keyakinan orangtua dan perilaku anak mempunyai hubungan yang signifikan dengan emergent literacy dan word reading skills.

Fadriyani (2010) juga mengungkapkan bahwa sebagian besar siswa TK Bhayangkari dapat masuk di SD favorit yang tes masuknya menggunakan tes kemampuan membaca dan menulis, salah satu penyebab hal ini adalah adanya kesadaran dan harapan orangtua murid yang tinggi dalam penguasaan kemampuan baca-tulis kepada anak mereka. Para orangtua banyak terlibat dalam penyediaan sarana dan prasarana/secara langsung memfasilitasi kebutuhan anak dalam meningkatkan kemampuan literasi.

Penyediaan fasilitas literasi yang bervariasi, dapat digunakan anak sebagai sarana permainan, berwarna-warni, banyak gambar, sesuai dengan ketertarikan anak dan secara fleksibel dapat dibawa anak kemana-mana memberikan efek yang baik dalam perkembangan literasi anak. Penyediaan fasilitas dengan ciri tersebut akan dapat menstimulasi anak untuk lebih tertarik dalam penggunaannya, sehingga akan merangsang keterampilan dan minat literasi anak.

Aktivitas literasi seperti membacakan buku secara rutin, mengajak bercerita, bernyanyi, bermain peran dan memperkenalkan literasi dengan berbagai fasilitas dapat meningkatkan keterampilan dan minat literasi. Memperkenalkan literasi pada usia dimana minat literasi anak mulai muncul juga akan memaksimalkan keterampilan dan minat anak.

Praktek literasi yang dilakukan dengan fasilitas/cara yang sama dan ketika anak dalam kondisi tidak siap akan membuat anak kurang berminat dengan aktivitas tersebut. Sebaliknya, praktek literasi yang dilakukan dengan fasilitas yang bervariasi, kontinyu, sambil bermain akan menumbuhkembangkan keterampilan dan minat literasi anak.

Selain itu, cara mengajarkan literasi yang kurang bersahabat seperti marah, membentak, memaksa, mengancam dan menuntut akan menurunkan minat anak. Sedangkan cara mengajarkan literasi yang bersahabat seperti intonasi suara yang lembut, bercanda, sambil bermain, memuji dan membimbing dapat meningkatkan minat anak.

Kebiasaan orangtua/keluarga merupakan suatu bentuk keterlibatan yang dapat mempengaruhi minat literasi anak. Keluarga yang memiliki kebiasaan literasi dan membiarkan anak terlibat didalamnya membuka peluang yang lebih besar untuk menumbuhkan minat literasi.

Keluarga yang memiliki kebiasaan literasi namun tidak membiarkan anak terlibat didalamnya membuka peluang yang lebih kecil untuk menumbuhkan minat literasi. Sedangkan, keluarga yang tidak memiliki kebiasaan literasi membuka peluang yang sangat kecil untuk menumbuhkan minat literasi anak.

Kesadaran orangtua akan pentingnya literasi dan kebutuhan untuk menumbuhkan minat literasi anak mendukung bentuk keterlibatan yang dilakukan oleh orangtua. Orangtua yang memahami pentingnya literasi akan terlibat dengan lebih bervariasi, baik secara fasilitas, aktivitas dan kebiasaan yang dibangun.

Referensi: Ainin Amariana, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta