Lagu anak tradisional dahulu sangat dikenal di kalangan anak-anak pada masa dekade 1960’an. Hal tersebut dikarenakan anak-anak memiliki waktu luang dan tempat untuk bermain serta bernyanyi secara bersama-sama. Anak-anak pada masa dekade tersebut banyak memiliki waktu luang sepulang sekolah karena belum disibukkan dengan kegiatan dan les berbagai macam mata pelajaran seperti sekarang ini. Anak-anak waktu itu juga memiliki fasilitas tempat yang luas, misalnya di lapangan, atau halaman rumah yang cukup luas.

Di samping itu, anak-anak pada masa itu belum memiliki permainan yang beraneka ragam seperti sekarang ini, sehingga anak-anak bermain dengan fasilitas yang ada di sekitar mereka. Kebanyakan anak-anak bermain secara bersama-sama berkumpul di tengah lapang saat bulan purnama bersinar, mereka melakukan aneka permainan, ada yang berlarian, ada yang main petak umpet, ada yang juga yang melakukan permainan anak tradisional (dolanan anak), serta ada yang menyanyikan lagulagu dolanan anak.

Lagu Dolanan Anak Sebagai Media Pendidikan Anak Usia Dini

Photo Credits: solopos.com

Dolanan anak dahulu sangat populer. Hampir di setiap sudut kampung tampak sekerumunan anak dengan suka cita bermain dakon, gobaksodor, pasaran, congklak, jamuran, cublak-cublak suweng, sampai delikan (bersembunyi). Kadang mereka duduk-duduk sambil menanyikan lagu anak-anak yang sebetulnya sarat dengan pengetahuan dan nasehat. Hal tersebut biasanya dilakukan pada hari libur dan malam hari ketika bulan purnama.

Kesempatan bernyanyi dan bermain yang dimiliki anak-anak masih longgar. Kelonggaran ini dikarenakan mereka belum disibukkan oleh bermacam kegiatan seperti saat sekarang, seperti les sekolah di sore hari, nonton televisi, atau mengikuti bimbingan belajar, dan sebagainya (Kedaulatan Rakyat Minggu, 17 Januari 2010, hal. 9). Di samping itu, lagu dolanan anak pada masa lalu sangat digemari anakanak, hal ini dikarenakan beberapa faktor.



Pertama, tanah lapang atau lahan yang masih luas, 2 memudahkan anak-anak untuk bermain bersama. Kedua, hubungan sosial yang sangat erat membuat mereka saling memiliki dan memiliki kebutuhan untuk berinteraksi satu sama lain. Sebagai makhluk sosial, anak pasti membutuhkan kehadiran orang lain. Hal ini juga dikuatkan oleh sistem kekerabatan masyarakat tradisional dengan sistem patembayan (gotong royong dan empati) yang dimiliki masyarakat Indonesia sebagai masyarakat agraris.

Lagu dolanan anak tradisional anak sepintas tersirat hanya melantunkan nada-nada, namun jika dikaji lebih dalam, lagu dolanan anak tradisional sarat pesan moral. Maka bermain yang dimaksud adalah menyanyikan lagu dolanan anak tradisional baik dengan gerak maupun tidak. Lagu dolanan anak tradisional merupakan lagu-lagu daerah yang biasa dinyanyikan oleh anakanak.

Lagu dolanan anak tradisional ialah tembang atau lagu yang biasanya dibawakan atau dinyanyikan oleh anak-anak dengan gembira serta untuk mengisi waktu di senja hari atau malam hari, antara lain antara lain lagu Jaranan, Kupu (Singarimbun, 1992. books.google.com). Sebagian besar masyarakat Jawa yang masih menggunakan bahasa Jawa pasti kenal dan akrab dengan lagu dolanan anak tradisional. Apabila lagu tersebut dihayati dapat dirasakan keindahan 7 alaminya. Alami karena penceritaannya berkenaan langsung dengan keadaan alam. Penuturannya lugas dan hidup sehingga kandungan lagunya terbayang nyata dan sangat mudah dimengerti oleh anak-anak. Dengan demikian dolanan anak tradisional dengan lagu-lagunya sangat sarat dengan pendidikan secara langsung.

Lagu dolanan anak tradisional dan dolanan anak tradisional dapat dijadikan sebagai alat pendidikan untuk anak-anak. Hal ini bisa dilakukan dengan waktu dan tempat kapan saja. Lagu dolanan anak dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu pengetahuan, nasehat atau penanaman sikap, dan ketrampilan fisik.

Ini sesuai dengan pembagian dalam taxonomi Bloom tentang ranah pendidikan knowledge, affective, dan pschomotor. Lagu dolanan anak juga sarat dengan pendidikan moral dan sosial, oleh karena itu dolanan anak sangat penting untuk dikenalkan pada anak usia dini yaitu usia pra sekolah dan usia sekolah. Melalui lagu dolanan anak tradisional, dapat dibentuk karakter yang seutuhnya.

Referensi : Yuli Sectio Rini, Universitas Negeri Yogyakarta