Usia dini pada anak merupakan masa kritis, di mana seorang anak membutuhkan rangsangan yang tepat untuk mencapai kematangan yang sempurna. Usia dini pada anak juga disebut sebagai masa emas (golden age) bagi penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan anak harus dilakukan melalui tiga lingkungan, yaitu keluarga, sekolah dan organisasi. Keluarga merupakan pusat pendidikan yang pertama dan terpenting. Sekolah sebagai pembantu kelanjutan pendidikan dalam keluarga sebab pendidikan yang pertama dan utama diperoleh anak ialah dalam keluarga.

Memahami Gaya Belajar Anak Usia Dini

Photo Credits: parentmap.com

Peralihan bentuk pendidikan informal atau keluarga ke formal atau sekolah memerlukan kerjasama antara orangtua dan sekolah. Sikap anak terhadap sekolah akan dipengaruhi oleh sikap orangtua anak karena diperlukan kepercayaan orangtua terhadap sekolah yang menggantikan tugasnya selama di sekolah. Orangtua juga harus memperhatikan sekolah anaknya dengan memperhatian pengalaman dan menghargai usaha serta menunjukkan kerjasamanya dalam cara anak belajar di rumah atau membuat pekerjaan rumahnya (Hasan, 2009).

Anak memiliki dunia dan karakteristik tersendiri yang jauh berbeda dari dunia dan karakteristik orang dewasa. Anak itu sangat aktif, dinamis dan anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Rasa ingin tahu yang tinggi ini yang menunjukkan anak sudah memulai aktivitas belajar walaupun gaya belajar anak masih sebagian besar dilakukan dengan bermain.

Bermain merupakan suatu hal yang penting bagi anak, dengan bermain anak merasakan suatu kebahagiaan dan kegembiraan. Bermain bagi anak usia dini merupakan aktivitas yang sangat disenangi. Oleh sebab itu, prinsip pembelajaran pada anak yaitu belajar sambil bermain.

Bermain sambil belajar merupakan sistem pendidikan yang umum diterapkan di setiap lembaga pendidikan usia dini. Belajar merupakan bagaimana kita menerima informasi dari dunia sekitar kita dan bagaimana kita memproses dan menggunakan informasi tersebut. Menurut Kamtini (2005) mengatakan bermain ialah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa menggunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi, memberikan kesenangan atau mengembangkan imajinasi pada anak

Masa anak merupakan fase yang sangat fundamental atau berharga atau penting bagi perkembangan individu. Masa anak juga merupakan peluang besar untuk pembentukan dan pengembangan pribadi seseorang.

Anak didefinisikan sebagai individu unik karena tidak ada anak atau individu yang sama persis, baik secara fisik, psikis, dan lain-lain. Perbedaan anak juga terlihat dari gaya belajar karena gaya belajar pada anak berbeda satu dengan lain. Gaya belajar setiap anak dipengaruhi oleh faktor alamiah (pembawaan) dan faktor lingkungan. Manfaat mengetahui gaya belajar: (1). Dapat menentukan cara belajar yang lebih efektif, dan (2). Mengetahui bagaimana memanfaatkan kemampuan belajar secara maksimal sehingga hasil belajar yang diperoleh dapat optimal.



Booby de Porter, (1999) menyebutkan macam-macam gaya belajar pada anak usia dini, sebagai berikut:

1) Visual.

Gaya visual mengakses citra visual, yang diciptakan atau diingat. Adapun ciri–ciri gaya belajar visual, antara lain:

a) Teratur, memperhatikan segala sesuatu, menjaga penampilan

b) Mengingat dengan gambar, lebih suka membaca daripada dibacakan

c) Membutuhkan gambaran dan tujuan menyeluruh dan menangkap detail: mengingat apa yang dilihat.

2) Auditori.

Gaya auditorial mengakses segala jenis bunyi dan kata diciptakan dan diingat. Ciri-ciri gaya auditori, sebagai berikut:

a) Perhatiannya mudah terpecah.

b) Berbicara dengan pola berirama.

c) Belajar dengan cara mendengarkan, menggerakan bibir atau bersuara saat membaca.

d) Berdialog secara internal dan eksternal.

3) Kinestetik.

Gaya kinestetik mengakses segala jenis gerak dan emosi-diciptakan maupun diingat. Ciri-ciri gaya belajar kinestetik, antara lain:

a) Menyentuh orang dan berdiri berdekatan, banyak bergerak

b) Belajar dengan melakukan, menunjuk tulisan saat membaca, menanggapi secara fisik

c) Mengingat sambil berjalan dan melihat.

Prinsip belajar pada anak Anita Yus (2011:67) menjelaskan pelaksanaan pembelajaran untuk AUD dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip, sebagai berikut:

1) Berorientasi pada kebutuhan anak

2) Belajar melalui bermain

3) Kegiatan belajar mengembangkan dimensi kecerdasan secara terpadu

4) Menggunakan pendekatan klasikal, kelompok, dan individual

5) Lingkungan kondusif

6) Menggunakan berbagai model pembelajaran

7) Mengembangkan keterampilan hidup dan hidup beragama

8) Menggunakan media dan sumber belajar

9) Berorientasi kepada prinsip perkembangan dan belajar anak

Anak merupakan investasi atau harta berharga bagi orangtua. Orangtua ingin memberikan yang terbaik untuk anak dalam pendidikan, khususnya pendidikan anak usia dini. Pendidikan Anak Usia Dini harus berlandaskan pada kebutuhan anak, disesuaikan dengan nilai-nilai yang dianut di lingkungan di sekitarnya, sesuai dengan tahap perkembangan fisik dan psikologis anak, dilaksanakan dalam suasana bermain yang menyenangkan dan dirancang untuk mengoptimalkan potensi anak.

Bermain bagi anak usia dini merupakan aktivitas yang sangat disenangi. Oleh sebab itu, prinsip pembelajaran pada anak, yaitu belajar sambil bermain. Bermain sambil belajar merupakan sistem pendidikan yang umum diterapkan di setiap lembaga pendidikan usia dini. Bermain sambil belajar ada unsur gaya belajar, di mana gaya belajar setiap anak dipengaruhi oleh faktor alamiah (pembawaan) dan faktor lingkungan.

Suasana rumah harmonis dan demokratis, berarti orangtua tidak hanya menempatkan diri sebagai orangtua tetapi sebagai guru yang terbaik bagi anak serta hubungan orangtua dengan anak yang harmonis akan menentukan kemampuan belajar dan merangsang untuk mengembangkan kecerdasan. Sebaliknya, suasana rumah tidak harmonis dan tidak demokratis maka anak tidak dapat menentukan kemampuan belajar.

Referensi: Tri Suyati, Ellya Rakhmawati, Padmi Padmi Dhyah Yulianti