Lagu Dolanan Anak Sebagai Media Pendidikan Anak Usia Dini



Lagu Dolanan Anak Sebagai Media Pendidikan Anak Usia Dini

Photo Credits: solopos.com

Lagu anak tradisional dahulu sangat dikenal di kalangan anak-anak pada masa dekade 1960’an. Hal tersebut dikarenakan anak-anak memiliki waktu luang dan tempat untuk bermain serta bernyanyi secara bersama-sama. Anak-anak pada masa dekade tersebut banyak memiliki waktu luang sepulang sekolah karena belum disibukkan dengan kegiatan dan les berbagai macam mata pelajaran seperti sekarang ini. Anak-anak waktu itu juga memiliki fasilitas tempat yang luas, misalnya di lapangan, atau halaman rumah yang cukup luas.

Di samping itu, anak-anak pada masa itu belum memiliki permainan yang beraneka ragam seperti sekarang ini, sehingga anak-anak bermain dengan fasilitas yang ada di sekitar mereka. Kebanyakan anak-anak bermain secara bersama-sama berkumpul di tengah lapang saat bulan purnama bersinar, mereka melakukan aneka permainan, ada yang berlarian, ada yang main petak umpet, ada yang juga yang melakukan permainan anak tradisional (dolanan anak), serta ada yang menyanyikan lagulagu dolanan anak.

Dolanan

Selengkapnya...



Konsep Pendidikan Anak Usia Dini



Konsep Pendidikan Anak Usia Dini

Photo Credits: telegraph.co.uk

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang Pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.

Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai usia 6 tahun. Usia ini merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 7). Usia dini merupakan usia di mana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat.

Usia dini disebut sebagai usia emas (golden age). Makanan yang bergizi yang seimbang serta stimulasi yang intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tersebut.

Ada berbagai kajian tentang hakikat anak usia dini, khususnya anak TK diantaranya oleh Bredecam

Selengkapnya...



Keterlibatan Orangtua Dalam Perkembangan Literasi Anak Usia Dini



Keterlibatan Orangtua Dalam Perkembangan Literasi Anak Usia Dini

Photo Credits: planningwithkids.com

Fenomena mengenai anak usia dini yang semakin berkembang menyebutkan bahwa terdapat bermacam-macam karakteristik anak usia dini yang berbeda dalam hal kemampuan literasi (baca-tulis).

Beberapa survei yang telah dilakukan oleh penulis memperlihatkan adanya perbedaan antara beberapa anak di Taman Kanak-kanak. Sebagian dari mereka memiliki kemampuan literasi yang lebih tinggi dari teman sebayanya, sebagian sama dan sebagian lagi lebih rendah dari teman sebayanya.

Beberapa anak yang berusia kurang dari 5 tahun dapat membaca dan menulis dengan lancar. Mereka dapat membaca buku cerita bergambar yang dibawakan oleh peneliti dengan tanpa mengeja dan tidak tersendat sendat. Hasil tulisan dari mereka pun tidak terdapat huruf yang hilang dalam setiap kata yang dituliskannya, meski terkadang terdapat pencampuaran huruf besar dan kecil.

Jika dibandingkan dengan teman seusianya, anak-anak ini memiliki kemampuan yang lebih baik dari teman sebayanya. Kondisi yang berbanding terbalik juga terjadi di beberapa

Selengkapnya...



Kecerdasan Moral Anak Usia Prasekolah



Kecerdasan Moral Anak Usia Prasekolah

Photo Credits: medicalnewstoday.com

Kualitas moral yang tinggi dibutuhkan untuk membuat anak sukses dalam kehidupan di rumah maupun di sekolah. Anak membutuhkan keterampilan moral bukan hanya sekedar prestasi akademik terutama dalam berhubungan dengan orang lain. Anak yang memiliki kualitas moral yang tinggi dapat dikatakan anak cerdas secara moral.

Borba (2001) menjabarkan kecerdasan moral anak dalam tujuh aspek yang berupa kebajikan yang dimiliki seorang anak yang cerdas moral. Ketujuh aspek tersebut yaitu :

a. Empati (emphaty)

Anak yang memiliki empati cenderung sensitif, menunjukkan kepekaan pada kebutuhan dan perasaan orang lain, membaca isyarat nonverbal orang lain dengan tepat dan bereaksi dengan tepat, menunjukkan pengertian atas perasaan orang lain, berperilaku menunjukkan kepedulian ketika seseorang diperlakukan tidak adil, menunjukkan kemampuan untuk memahami sudut pandang orang lain, mampu mengidentifikasi secara verbal perasaan orang lain.

b. Nurani (conscience)

Anak yang memiliki tingkat nurani tinggi cenderung

Selengkapnya...



Si Kecil Takut pada Ayahnya



Si Kecil Takut pada Ayahnya

Photo Credits: divalikes.com

Tak perlu khawatir, asalkan kedua orang tua tetap kompak dalam menerapkan nilai-nilai dan disiplin pada anak.

“Walau saya sudah ngomel-ngomel untuk melarangnya, dia tetap saja melakukannya, seolah tak memperhatikan dan tak dengar. Lain hal kalau ayahnya yang melarang, baru, deh, didengar. Bahkan sampai menangis segala,” ungkap seorang ibu perihal putrinya yang berusia 2 tahun dan tak pernah “takut” padanya.

Pengalaman ini rasanya tak asing bagi kaum ibu yang punya anak batita, bukan? Walau kita marah habis-habisan, tapi, kok, anak adem-ayem saja alias tak ada takutnya. Lain hal jika sama ayahnya, baru diperingati sedikit saja atau baru sekali saja diperingati, anak bisa langsung diam, kadang menekukkan wajahnya karena takut.

Memang, umumnya anak takut pada ayah. “Seharusnya, sih, anak tidak takut pada kedua orang tuanya, ataupun pada salah satu orang tuanya, karena takut ini menyeramkan buat anak.” Selain itu, jika anak takut pada salah satu orang tua

Selengkapnya...



Penyebab Latah pada Anak



Penyebab Latah pada Anak

Photo Credits: buzzfeed.com

Arahkan anak agar hanya mencontoh perbuatan yang positif saja. Jika pada perilaku negatif, segera cegah dan beri penjelasan.

Melihat temannya menangis, eh, si balita kita, kok, latah ikut menangis. Begitu juga kala ada sebayanya yang tertawa gembira, si kecil pun ketularan tertawa pula. Tak perlu bingung atau berpikir ia sudah punya sikap solidaritas yang tinggi, karena di usia balita, anak tengah memasuki fase peniruan.

Perilaku meniru menjadi penting karena dari proses belajar ini kognisinya akan berkembang semakin optimal. Itulah sebabnya, anak pun terkesan “latah” dengan senang meniru perilaku orang lain. Secara umum latah sendiri dibedakan menjadi dua. Latah terhadap kata-kata dan latah terhadap perilaku. Sementara kasus di atas adalah latah perilaku.

Aneka Penyebab

Penyebab anak menjadi latah, bisa disebabkan berbagai faktor. Salah satunya, rasa senang yang diakibatkan oleh perilaku peniruan tersebut. Misal, saat anak meniru anak lainnya memukul-mukul meja, awalnya tanpa

Selengkapnya...



Metode Alternatif Atasi Rasa Takut pada Anak



Metode Alternatif Atasi Rasa Takut pada Anak

Selain bisa jadi obat mujarab mengatasi rasa takut, bermain peran (role play) juga merangsang imajinasi dan kemampuan verbal si prasekolah.

“Ibuuu…ada ayam, aku takut!” jerit Susan, seorang bocah prasekolah sambil berlari kencang dan mencoba berlindung di belakang ibunya saat melihat hewan peliharaan tetangganya melintas di depannya. “Ah…masa udah gede takut sama ayam. Kamu, kan, suka makan ayam?” goda si ibu.

Memang umumnya rasa takut pada anak muncul karena anak sering ditakut-takuti. Umpamanya dengan ucapan, “Awas, lo, kalau masih nangis terus dan enggak mau diem, nanti kamu dipatuk ayam.” Atau “Pokoknya, kalau makannya enggak habis, Mama panggilin dokter biar nyuntik kamu!”

Memang, sih, metode semacam ini amat tokcer untuk “memaksa” anak mau menuruti keinginan orang tuanya. Alhasil, anak selalu takut jika melihat bahkan mendengar suara sosok siapa pun atau binatang yang baginya telanjur dianggap menyeramkan.

Padahal

Selengkapnya...



Balita Inspirasi Bunda
Balita Bunda adalah sebuah media informasi inspiratif mengenai Balita dan Bunda