Otot lengan yang semakin kuat, membuat si kecil ingin sekali memanjat. Dilarang saja agar ia tak jatuh?

“Wah, anakku sekarang mulai nakal, suka manjat-manjat,” tutur seorang ibu muda pada temannya. Anaknya kini memang sedang mencoba-coba mencari sesuatu yang tinggi untuk dipanjat. Mengapa anak usia ini ingin sekali memanjat?

Koordinasi otak, mata, lengan dan kaki

Keterampilan memanjat menyangkut kerja otak, yang memerintahkan mata-lengan dan kaki untuk bersama-sama bekerja menghasilkan gerakan yang disebut memanjat. Jadi, memanjat, meski tampak sepele, sebetulnya menyangkut kematangan berpikir, kematangan otot lengan dan kematangan otot tungkai dan batang tubuh.



Kematangan berpikir terjadi saat anak sadar akan adanya dimensi ketinggian, dan mulai berpikir bahwa benda-benda yang letaknya di atas dapat diraihnya dengan cara memanjat. Sedangkan kematangan otot lengan, adalah ketika anak mencoba menopang tubuhnya dan menjaga keseimbangan menggunakan kedua lengannya, kemudian menaikkan kaki.

Jelaslah, keinginan anak untuk mencoba memanjat tidak ada hubungannya dengan kenakalan atau keisengan.

Latihan sangat perlu

Rasa ingin tahu anak mengarahkannya untuk melakukan sesuatu, termasuk memanjat. Jangan halangi rasa ingin tahu si kecil dengan melarangnya memanjat, karena Anda takut ia jatuh. Sebab, keterampilan memanjat diperlukan anak kelak. Daripada melarangnya memanjat, lebih baik:

* Beri fasilitas yang aman untuk dipanjat . Misalnya, kursi yang kokoh atau meja rendah yang tidak terbuat dari kaca. Bisa juga mengajak anak menaiki tangga yang tersedia di play ground .
* Dampingi saat memanjat . Setelah memanjat, kadang-kadang anak tidak dapat turun sendiri. Bisa saja ia berteriak-teriak minta diturunkan. Bantu dan ajarkan si kecil cara turun yang tepat agar ia tidak jatuh.
* Jangan menjerit . Saat Anda melihat anak memanjat teralis, misalnya, jangan menjerit. Tetaplah tenang, dekati si kecil dan gapai dia. Jeritan Anda dapat membuat anak kaget, dan tidak mustahil ia malah terjatuh.

Immanuella F. Rachmani