Efektivitas Metode Bermain Peran (Role Play) Untuk Meningkatkan Keterampilan Komunikasi Pada Anak

Sekolah merupakan salah satu sumber pengalaman terbesar dalam masa kanak-kanak yang mempengaruhi sebagian besar aspek dari perkembangan anak. Dalam masa itu, anak dapat meningkatkan pengetahuan, keahlian dan kemampuan sosialnya, melatih tubuh dan pikiran mereka serta mempersiapkan diri untuk menjalani kehidupan mereka yang akan datang. Pada umumnya pendidikan prasekolah akan mempengaruhi pencapaian anak pada pendidikan sekolah dasar hingga sekolah lanjutan.

Usia pra sekolah biasanya anak mengalami masa peka, dimana anak mulai sensitif untuk menerima berbagai upaya pengembangan seluruh potensi anak. Masa peka adalah masa terjadinya pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon rangsangan yang diberikan oleh lingkungan. Oleh sebab itu dibutuhkan kondisi dan rangsangan yang sesuai dengan kebutuhan anak agar pertumbuhan dan perkembangan anak dapat tercapai secara optimal (Yudha, 2005).

Efektivitas Metode Bermain Peran (Role Play) Untuk Meningkatkan Keterampilan Komunikasi Pada Anak 
Anak yang berada pada masa lima tahun pertama yang disebut dengan usia keemasan merupakan masa emas bagi perkembangan anak. Anak pada usia tersebut mempunyai potensi yang sangat besar untuk mengoptimalkan segala aspek perkembangannya, termasuk perkembangan keterampilan (Hurlock, 2002).

Interaksi dengan teman sebaya dan juga orang lain selain anggota keluarga akan mendorong individu untuk berperilaku dengan cara yang dapat diterima oleh orang lain (Hurlock, 1988). Kemampuan individu untuk beradaptasi dengan orang lain secara umum sering disebut dengan penyesuaian sosial. Beberapa anak yang tidak dapat menyesuaian dengan teman-temanya akan sering diejek, dimusuhi tidak diajak bermain dengan teman-temannya, dan akhirnya akan mengalami stress ( Hall, 1993).

Wylie (dalam Trisnaningtyas, 2010) mengemukakan bahwa ada beberapa ketrampilan-ketrampilan krusial yang akan dibutuhkan anak selama perjalanan pendidikannya mulai dari sekolah dasar dan seterusnya, diantaranya: ketrampilan menyimak dan mendengarkan, ketrampilan akademik, ketrampilan bekerja secara mandiri dan secara kelompok, serta ketrampilan berkomunikasi

Keterampilan komunikasi ini sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan suatu kelompok agar dapat mengutarakan pendapat mereka masing-masing serta dapat medengarkan pendapat dari orang lain. Keterampilan komunikasi merupakan modal yang penting agar dapat menjalankan interaksi sosial yang baik meskipun keterampilan ini tidak begitu saja dimiliki oleh anak (Effendy ,1986).

Ketika anak mulai masuk lembaga pendidikan prasekolah seperti Taman Kanak-kanak (TK), pada tahapan inilah belajar mengasah keterampilan sosial dan keterampilan komuikasi di TK menjadi penting. Mereka tidak hanya diajak berinteraksi dan berbicara dengan menggunakan bahasa ibu tetapi harus bisa menangkap pembicaraan dengan bahasa Indonesia dengan baik.

Pada usia lima dan enam tahun anak sudah senang bersosialisasi atau berinteraksi dan berbicara untuk dapat mengungkapkan pendapatnya dengan jelas, mereka juga senang bermain-main dengan kata-kata. Biasanya mereka memiliki teman imajinatif untuk diajak berinteraksi dan berbicara, karena pada usia ini anak memasuki periode praoprasional. Teman imajinatif ini akan segera menghilang seiring dengan masuknya anak ke dalam periode operasional konkret ( Yudha, 2005).

Kemampuan komunikasi anak ketika mulai memasuki usia TK adalah anak mampu menggunakan banyak kosa kata, pengucapan kata-kta yang jelas, dan anak sudah mulai membentuk suatu kalimat kurang lebih enam sampai delapan kata yang terdiri dari kata kerja, kata depan dan kata penghubung (Harlock, 2002).

Sedangkan menurut Mussen (2005) tahap perkembangan komunikasi yang harus dicapai pada anak umur empat sampai enam tahun adalah pembicaraan yang diucapkan anak lebih lama dan lebih kompleks, kata-kata yang diucapkan saling berhubungan, dan anak sudah mulai luwes untuk menyesuaikan gaya bicaranya ketika anak berkomunikasi dengan orang yang lebih muda atau yang lebih tua.

Akan tetapi yang terjadi pada saat sekarang ini tidaklah sesuai dengan tahap perkembangan yang telah dijelaskan di atas. Banyak anak yang belum mampu melakukan kemampuan berkomunikasi yang sesuai dengan tahap perkembangannya. Untuk meningkatkan komunikasi pada anak-anak harus menguasai unsur penting dalam belajar.

Unsur penting itu adalah anak harus mengerti apa yang dikatakan orang lain dan anak harus meningkatkan keterampilan berbicara. Tetapi kebanyakan orang tua maupun pengasuh hanya meningkatkan keterampilan berbicara saja sehingga tugas untuk mengerti perkataan orang lain kurang diperhatikan. Padahal dua unsur itu sangatlah penting.

Pada penelitian sebelumnya, kegiatan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berbicara anak di TK Al-Kautsar Bandar Lampung, belum terlihat tepat guna (efektif). Metode penyampaian untuk meningkatkan keterampilan sosial dan keterampilan berkomunikasi pada anak hanya menggunakan metode bercakap-cakap, metode tanya jawab, serta metode bercerita.

Metode tersebut biasanya digunakan sebagai metode rutinitas dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Metode-metode tersebut akan menjadi lebih bermakna jika disampaikan dengan prinsip bermain sambil belajar, sehingga kegiatan ini sangat menyenangkan dan dapat menambah pemahaman anak tentang lingkungannya ( Siska, 2011).

Sedangkan dilihat dari penemuan masalah di lapangan yang telah dilakukan di PAUD IT Durratul Islam, melalui metode wawancara dengan guru dan observasi saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, banyak ditemukan anak-anak yang masih belum bisa berkomunikasi dengan baik. Ketika mereka ingin mengatakan sesuatu, mereka masih terlihat susah payah untuk mengatakanya.

Beberapa aktivitas di dalam kelas juga terlihat adanya kegiatan yang kurang memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan kemampuan berbicaranya dan berkomunikasi. Ketika anak ingin bertanya, guru sering menghiraukannya. Demikian pula pemanfaatan media pembelajaran yang kurang memperhatikan aspek-aspek perkembangan anak.

Kebanyakan yang terjadi adalah anak hanya duduk diam mendengarkan ceramah guru, anak hanya melaksanakan tugas yang diberikan dan jika anak ada yang bersuara atau yang tidak dapat tenang, guru langsung menegurnya. Anak pun hanya akan menjawab soal ketika disuruh oleh gurunya. Bahkan ketika ada anak yang menjahili teman yang lain, anak tidak mau meminta maaf.

Dengan demikian keterampilan berkomunikasi memang sangat penting untuk dilatihkan sebagai bekal bagi anak-anak untuk dapat berkomunikasi dengan baik di lingkungannya sehingga dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan. Salah satu metode untuk membantu keterampilan komunikasi yang ingin diteliti menggunakan metode role play atau bermain peran.

Aspek-aspek keterampilan Komunikasi

Santrock (2007) membagi keterampilan komunikasi ke dalam tiga aspek utama yaitu :

a. Keterampilan berbicara

Keterampilan berbicara mencakup keterampilan berbicara di depan kelas dan berbicara dengan teman-temanya menggunakan gaya komunikasi yang tidak menimbulkan kesan menghakimi lawan bicara dan bersikap asertif.

b. Keterampilan mendengar

Keterampilan mendengar adalah kemampuan mendengar secara aktif. Keterampilan mendengar secara aktif diindikasikan dengan:

  1. Memberi perhatian cermat pada orang yang sedang berbicara misalnya mempertahankan kontak mata dan mencondongkan badan pada lawan bicara.

  2. Parafarasa yaitu menyatakan kembali apa yang baru saja dikatakan oleh lawan bicara dengan kalimat sendiri, misalnya “apakah maksudmu itu berarti bahwa...”

  3. Sinteksis tema dan pola yaitu meringkas tema utama dan perasaan lawan bicara yang disampaikan dalam percakapan yang panjang.

  4. Memberi umpan balik atau tanggapan yang kompeten yaitu memberi tanggapan secara cepat, jujur, jelas dan informatif.


c. Keterampilan berkomunikasi secara non verbal

Keterampilan berkomunikasi secara non verbal yaitu keterampilan berkomunikasi melalui ekspresi wajah dan mata, sentuhan, ruang dan sikap diam. Keterampilan komunikasi melalui ekspresi wajah misalnya senyum, merengut, tatapan kebingungan.Komunikasi mata misalnya mempertahankan kontak mata ketika berbicara. Keterampilan komunikasi melalui sentuhan misalnya memberi sentuhan yang lembut kepada teman yang sedang sedih. Keterampilan komunikasi melalui ruang misalnya mampu memastikan bahwa anak memiliki ruang individual sendiri dan mereka harus menghormati ruang orang lain.

Faktor Faktor yang Mempengaruhi Keterampilan Komunikasi

Faktor yang dapat mempengaruhi keterampilan komunikasi menurut Yusuf (2000) dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : latar belakang budaya, ikatan kelompok atau grup, intelegensi, dan hubungan keluarga. Rincian lebih lanjut adalah :

a. Latar belakang budaya

Interpretasi suatu pesan akan terbentuk dari pola pikir seseorang melalui kebiasaannya, sehingga semakin sama latar belakang budaya antara komunikator dengan komunikan maka komunikasi semakin efektif.

b. Ikatan kelompok atau grup

Nilai –nilai yang dianut oleh suatu kelompok sangat mempengaruhi komunikasi pada anak.

c. Intellegensi

Semakin cerdas seorang anak, maka semakin cepat pula anak itu menguasai keterampilan berkomunikasi.

d. Hubungan keluarga.

Hubungan keluarga yang dekat dan hangat akan lebih mempercepat keterampilan komunikasi pada anak daripada hubungan keluarga yang tidak akrab.

Anak usia taman kanak-kanak adalah anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang mempunyai karakteristik yang unik. salah satu karakteristik yang unik biasanya anak selalu ingin banyak bertanya ketika menemukan hal yang baru.

Ketika ingin bertanya anak masih sering kesusahan untuk mengkomunikasikannya Komunikasi bagi anak sangatlah penting, agar dapat membantu perkembangan dan pertumbuhannya. Komunikasi pada anak perlu dilatih sejak kecil agar berguna untuk kehidupan sekarang dan ke depannya ketika sudah besar. Oleh karena itu, ketika anak masuk ke sekolah taman kanak-kanak, perlu diajarkan pelatihan atau metode yang berguna untuk meningkatkan komunikasi pada anak.

Kemampuan masing-masing anak berbeda-beda. Hal ini dapat dikarenakan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Anak yang memiliki keterampilan komunikasi lebih tinggi daripada temannya bisa juga dikarenakan anak itu memiliki kesempatan untuk berkomunikasi lebih banyak dibandingkan temannya yang lain.

Bisa juga dikarenakan kognisi maupun intelegensi setiap anak ketika menangkap suatu hal yang baru berbeda-beda kecepatannya. Oleh karena itu, setiap anak perlu dilatih agar lebih terampil dalam berkomunikasi.

Teknik dalam pelatihan keterampilan komunikasi sangat bermacam-macam. Salah satunya menggunakan metode bermain. Dengan bermain dapat menjadi alternatif untuk mengembangkan keterampilan komunikasi pada anak. Terlebih lagi, pada usia sekolah, kegiatan bermain sangat dominan untuk dilakukan.

Sesuai dengan pendapat Hurlock (1999) yang mengatakan bahwa salah satu ciri anak usia sekolah adalah bermain. Bermain yang efektif dan mengandung edukasi pada jaman sekarang ini sangat banyak macamnya, contohnya yaitu menggunakan metode bermain peran(role play).

Dengan menggunakan metode bermain peran (role play) diharapkan dapat membantu meningkatkan keterampilan komunikasi pada anak karena anak senang dengan bermain dan merupakan salah satu ciri khas pada anak usia sekolah sehingga anak tidak merasa jenuh dan bosan dengan metode ini.

Bermain peran memenuhi beberapa prinsip yang sangat mendasar dalam proses belajar mengajar, misalnya keterlibatan murid dan motivasi yang hakiki.Suasana yang positif sering kali menyebabkan seseorang bisa melihat dirinya sendiriseperti orang lain melihat dirinya.

Keterlibatan para peserta permainan peran bias menciptakan baik perlengkapan emosional maupun intelektual pada masalah yang dibahas. Bila seorang guru yang terampil bisa dengan tepat menggabungkan masalah yang dihadapi dengan kebutuhan dalam kelompok, maka kita bisa mengharapkan penyelesaian dari masalah-masalah hidup yang realistis.

Penelitian–penelitian sebelumnya juga menguatkan bahwa metode bermain peran (role play) dapat meningkatkan keterampilan komunikasi. Diantaranya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Siska, 2011 dengan judul “Penerapan Metode Bermain Peran (role play) dalam Meningkatkan Keterampilan Sosial dan Keterampilan Komunikasi Anak Usia Dini”. Hasil dari penelitian tersebut yaitu metode role play dapat meningkatkan keterampilan sosial dan komunikasi pada anak.

Referensi: Peny Puji Astuti, Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan