Metode Stimulasi dan Perkembangan Emosi Anak Usia Dini

Masa1 usia dini merupakan “golden age period”, artinya merupakan masa emas untuk seluruh aspek perkembangan manusia, baik fisik, kognisi emosi maupun sosial. Salah satu aspek perkembangan yang penting bagi anak usia dini adalah aspek emosi. Merangkum pendapat Goleman, Izard dan Ackerman, Le Doux, (Hansen & Zambo 2007) emosi adalah perasaan yang secara fisiologis dan psikologis dimiliki oleh anak dan digunakan untuk merespons terhadap peristiwa yang terjadi disekitarnya. Emosi bagi anak usia dini merupakan hal yang penting, karena dengan emosi anak dapat memusatkan perhatian, dan emosi memberikan daya bagi tubuh serta mengorganisasi pikir untuk disesuaikan dengan kebutuhan.

Lebih lanjut Hansen dan Zambo (2007) menjelaskan tentang contoh fungsi emosi dalam kehidupan anak usia dini, misal: takut adalah salah satu emosi yang digunakan untuk ”survival”. Pada saat emosi takut muncul pada anak, maka anak menjadi sadar terhadap lingkungan dan menimbulkan sikap hati-hati pada diri anak. Senyum merupakan ekspresi emosi senang, dengan senyum anak akan mampu memberikan tanda kepada sekitarnya tentang situasi yang dialami dan kebutuhan untuk melakukan hubungan antar pribadi.

Metode Stimulasi dan Perkembangan Emosi Anak Usia Dini

Photo Credits: coparenting.co.za

Singkat kata emosi membantu anak sepanjang waktu untuk bertahan dan berkomunikai dengan lingkungan. Emosi berkembang sepanjang waktu, emosi pada anak usia dini berkembang dari yang sederhana menjadi ke suatu kondisi yang lebih kompleks. Emosi berkembang sebagai hasil interaksi dengan lingkungan. Menurut Bronfenbreuner (Santrock, 2006) ada sejumlah sistem yang berpengaruh terhadap perkembangan anak yaitu mikrosistem, mesosistem, eksosistem, makrosistem dan kronosistem.

Salah satu sistem yang paling kuat dan langsung pengaruhnya terhadap perkembangan anak adalah mikrosistem. Adapun yang dimaksud dengan lingkungan mikro oleh Bronfenbreuneur adalah situasi lingkungan yang menyebabkan anak dapat melakukan kontak langsung dan saling mempengaruhi. Lingkungan mikro mempunyai peran khusus dalam perkembangan anak, karena dalam mikrossitem ini terdapat unsur orangtua, guru dan juga mencakup kuantitas.dan kualitas pengasuhan.

Anak berkembang melalui interaksi dengan lingkungan. Salah satu lingkungan yang berperan adalah orang tua. Namun pada tahun terakhir jumlah orang tua terutama ibu yang bekerja semakin meningkat; pada saat yang bersamaan muncul kelompok atau lembaga yang menyelenggarakan pendidikan di luar rumah untuk anak usia dini. Kondisi ini seolah gayung bersambut dengan kebutuhan orangtua untuk tetap dapat mendapatkan cara yang dianggap sesuai untuk perkembangan anak.

Orang tua berharap bahwa di Taman Kanak-kanak (TK) anak akan mendapatkan stimulasi yang memadai bagi perkembangan anak. Pada lingkungan belajar di luar rumah atau di TK, anak akan belajar dan mendapat stimulasi. Melton (dalam Ben-Arieh, et al, 2009) berpendapat bahwa sekolah merupakan lingkungan utama bagi proses perkembangan anak, dan berperan dalam menciptakan kegiatan untuk kesejahteraan anak. Namun pada kenyataannya tidak semua anak mendapatkan perkembangan yang optimal, bahkan anak mengalami developmental delay atau developmental problems.

Lickona (dalam Woolfolk, 2006) mengatakan bahwa variasi dalam situasi akan menghasilkan variasi dalam perilaku. Suasana yang dibangun dalam satu situasi yang mendekati kehidupan yang sebenarnya, dapat menyebabkan anak menjadi kaya akan pengalaman. Anak tidak saja berpikir dan bertindak dari sisi kognitifnya saja, namun juga menggunakan atau mengasah ranah non kognitifnya.

Dengan demikian mereka dapat berkembang secara optimal menjadi manusia seutuhnya (secara horisontal dan vertikal). Anak belajar melalui berbagai cara antara lain melalui imitasi, melakukan sesuatu atau mencoba dan mengalami (Einon, 2005). Lingkungan menyediakan sesuatu yang dibutuhkan anak, dan anak akan memanfaatkan apa yang ditawarkan oleh lingkungan. Orang dewasa dapat melatih, menjelaskan, dan mengoreksi anak, atau menunjukkan sesuatu kepada anak.

Oleh karena itu yang dapat dilakukan adalah membantu anak untuk melibatkan dan mendorong anak untuk mencoba dan mengalami. Anak mempunyai bakat atau kemampuan yang telah dibawa sejak lahir, namun bakat atau kemampuan tersebut tidak akan berkembang apabila tidak memperoleh rangsangan dari lingkungannya.

Pendidikan anak usia dini merupakan suatu bentuk stimulasi yang pada dasarnya adalah upaya-upaya intervensi yaitu menciptakan lingkungan sekitar anak usia dini agar mampu menstimulasi seluruh aspek perkembangan anak. Intervensi merupakan sejumlah informasi yang diatur melalui pembelajaran tertentu untuk pertumbuhan, perkembangan maupun perubahan perilaku.

Menurut Mashar (2007), mengutip pendapat Foot et al mengatakan bahwa anak yang mengalami hambatan ataupun problema perkembangan, tidak akan berkembang secara optimal. Terjadinya problema dalam perkembangan emosi pada anak usia dini salah satunya dipengaruhi oleh guru.

Penelitian Mashar (2007) menunjukkan bahwa guru yang telah dilatih untuk mendampingi anak, ternyata anak mampu berperilaku dengan baik. Penelitian yang dilakukan oleh Puspitasari (2009) juga menunjukkan bahwa guru yang dilatih dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi pada anak usia dini, dan dalam mengurangi terjadinya problema perkembangan pada anak.

Telah terjadi pergeseran paradigma dalam pengembangan dan pendidikan anak usia dini. Pada masa yang lalu, tujuan dari pendidikan anak usia dini adalah persiapan akademis untuk masuk sekolah formal, sehingga pendidikan anak usia dini lebih menekankan pada aspek perkembangan kognitif dan bahasa. Pada masa sekarang paradigma telah merubah menuju pada pengasuhan dan perkembangan anak, yang artinya harus melibatkan caring and education. Perubahan paradigma ini berakibat dalam cara memperlakukan anak, termasuk dalam memberikan stimulasi.

Anak tidak berkembang secara otomatis, namun dipengaruhi oleh cara lingkungan memperlakukan mereka. Ketika anak memasuki lingkungan ”sekolah” non formal seperti taman kanak-kanak, maka ruang dan kesempatan untuk berinteraksi semakin luas. Stimulasi yang diberikan oleh guru termasuk yang berpengaruh. Cara guru memberikan stimulasi terhadap anak adalah tergantung pada pemahaman guru terhadap stimulasi dan permahaman terhadap anak.

Menjadi guru yang baik, berarti seseorang harus bersedia dan mampu mengenali siapa anak didiknya. Pengenalan terhadap anak merupakan hal yang penting, karena setiap anak adalah unik (Pearsons & Sardo, 2006). Namun kenyataan menunjukkan bahwa pada umumnya guru mengabaikan tentang keunikan anak. Bagi guru lebih mudah memberikan pendidikan yang sama dan adil menurut konsep guru, dengan kata lain guru tidak memperhatikan kebutuhan anak.

Menurut Ormrod (2003) guru cenderung menuntut siswa untuk menurut atau taat dengan menunjukkan perilaku yang baik di mata guru sebagai akibatnya anak akan mendapat stimulasi dengan cara yang tidak sesuai dengan kebutuhan mereka, dan pada gilirannya akan memunculkan terjadinya problema perkembangan, Anak berkembang dalam lingkungan yang beragam. Goldin–Meadow (2008) menyatakan bahwa lingkungan akan mempengaruhi anak dalam berbagai hal, antara lain akan berpengaruh terhadap bagaiamana seorang anak berkembang dan belajar dari lingkungan.

Kualitas dan kuantitas pengasuhan terhadap anak usia dini ini menurut Mönks, Knoers, dan Haditono (2004) berkait dengan pemberian stimulasi. Pemberian stimulasi harus sesaui dengan kebutuhan anak, anak yang mendapat stimulasi yang berlebih atau kurang, akan menyebabkan anak mengalami problema perkembangan.

Problema perkembangan dapat terjadi karena pemberi stimulasi tidak paham tentang capaian perkembangan. Santrock (2006) menjelaskan bahwa pada pendidikan anak usia dini dimasa sekarang telah mengalami pergeseran paradigma. Capaian perkembangan dalam pengembangan anak usia dini merupakan yang utama.

Berarti pemberian stimulasi adalah berdasarkan pada pengetahuan terhadap tipikal perkembangan anak atau berkait dengan keunikan anak, tidak lagi berdasar pada sudut kepentingan orangtua atau guru.

Oleh karena itu bagaimana pemahaman guru tentang pemahaman terhadap stimulasi dan aspek perkembangan anak merupakan suatu hal yang penting untuk diteliti. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemahaman guru terhadap cara memberikan stimulasi untuk perkembangan emosi anak usia dini.

Pada saat ini pemahaman guru terhadap cara memberikan stimulasi untuk perkembangan emosi anak usia dini masih belum memadai, karena guru lebih menekankan pada pentingnya kemampuan kognisi pada anak, dan cenderung mengabaikan perkembangan emosi pada anak, sehingga sangat memungkinkan terjadinya problem perkembangan pada anak. Namun hal yang harus diperhatikan adalah kondisi ini terkait dengan nilai dan budaya yang ada disekitarnya.

Karena faktor nilai dan budaya merupakan hal yang ikut menentukan orientasi pendidikan untuk anak usia, dan secara mempengaruhi penentuan standar perilaku dan cara mendidik anak.

Referensi: Wisjnu Martani Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada



Meningkatkan Kemampuan Berbahasa Anak Usia Dini Melalui Media Panggung Boneka Tangan

Pendidikan bagi anak usia dini adalah menggali pengalaman-pengalaman langsung yang dialami anak melalui pengoptimalan panca inderanya. Anak dapat belajar melalui apa yang dilihat, didengar dan dirasakan, lalu mereka meraba, mempelajari serta membuat kesimpulan akhir tentang pengamatan mereka masing-masing. Pembelajaran pada anak usia dini hendaknya melalui interaksi dengan objek-objek nyata dan pengalaman konkret dengan menggunakan berbagai media dan sumber belajar agar apa yang dipelajari anak menjadi lebih bermakna.

Nusantara of Reseacrh (Anik Lestaningrum; Intan P.W.) 13 Bahasa merupakan salah satu aspek yang harus dikembangkan dalam pendidikan anak usia dini, diarahkan agar anak mampu menggunakan dan mengekspresikan pemikirannya dengan menggunakan kata-kata yang tepat. Pengembangan bahasa pada anak usia dini lebih menekankan pada urutan mendengar, berbicara kemudian baru ke tahapan membaca dan menulis.

Meningkatkan Kemampuan Berbahasa Anak Usia Dini Melalui Media Panggung Boneka Tangan

Photo Credits: aliexpress.com

Bahasa sebagai suatu bentuk komunikasi memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bahasa kita perlukan untuk berbicara dengan orang lain, mendengarkan orang lain, membaca, dan menulis. Bahasa menjadikan seseorang mampu mendeskripsikan peristiwa di masa lalu dan merencanakan masa depan. Dengan bahasa pula seseorang dapat mewariskan informasi dari satu generasi ke generasi berikutnya dan menciptakan suatu warisan budaya yang kaya Santrock, (2007).

Menurut Vygotsky (dalam Aisyah, 2007), bahasa adalah sentral yang penting dalam proses belajar. Ia berpandangan perkembangan bahasa berhubungan langsung dengan perkembangan kognitif. Bahasa diperlukan individu untuk mengelola pikiran mereka. Menurutnya kita melambangkan dan menggambarkan dunia kita melalui bahasa, sehingga bahasa adalah sistem simbolik dengan apa kita berkomunikasi, atau dengan kata lain bahasa adalah alat budaya.

Penggunaan media dalam pembelajaran dapat membantu anak dalam memberikan pengalaman yang bermakna bagi siswa. Penggunaan media dalam pembelajaran dapat mempermudah siswa dalam memahami sesuatu yang abstrak menjadi lebih konkret. Media panggung boneka tangan adalah salah satu media dari sekian banyak media pembelajaran yang dapat dipih oleh seorang pendidik/guru sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

Alasan peneliti memilih media boneka tangan dan media gambar ini adalah, media ini sesuai dengan karakteristik anak usia dini dimana anak dalam tahapan pra operasional konkrit ,(Piaget tentang teori kognisi jadi anak memerlukan perantara yaitu media untuk memudahkan memahami pesan atau materi yang disampaikan oleh pendidik/guru diterima atau dimengerti oleh anak. Karena pada tahap ini kemampuan anak berfikir masih terbatas pada hal yang bersifat nyata atau konkret dan belum memahami hal yang bersifat abstrak.

Boneka tangan yang digunakan dapat mewakili benda-benda yang bagi anak sulit dijangkau menjadi sesuatu yang nyata melalui model tiruan. Bentuk-bentuk boneka tangan dapat berupa tiruan berbagai macam binatang, manusia yang berperan ayah, ibu, anak, profesi pekerjaan dll. Sehingga melalui model boneka tangan inilah dapat mencapai tujuan pembelajaran yaitu mampu mengembangkan kemampuan berbahasa anak secara optimal.

Boneka tangan mempunyai pengaruh positif dan efektif yaitu; meningkatkan kemampuan anak dalam berbagai aspek yaitu menyimak, berbicara, membaca juga menulisnya.

Dimana semua aspek itu secara umum merupakan keseluruhan kemampuan bahasa anak yang memerlukan proses yang memerlukan motivasi dan stimulasi agar anak optimal dalam pencapaian tingkatan perkembangan bahasanya.

Sekolah hendaknya memprogramkan kegiatan panggung boneka tangan dengan mengadakan jadwal untuk gurunya bergantian menggunakan. Apabila sarana panggung boneka tangan masih kurang pihak sekolah memprogram untuk menambah jumlah boneka tangan agar lebih bervariasi.

Referensi : Anik Lestariningrum; Intan P.W, Universitas Nusantara PGRI Kediri



Memahami Gaya Belajar Anak Usia Dini

Usia dini pada anak merupakan masa kritis, di mana seorang anak membutuhkan rangsangan yang tepat untuk mencapai kematangan yang sempurna. Usia dini pada anak juga disebut sebagai masa emas (golden age) bagi penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan anak harus dilakukan melalui tiga lingkungan, yaitu keluarga, sekolah dan organisasi. Keluarga merupakan pusat pendidikan yang pertama dan terpenting. Sekolah sebagai pembantu kelanjutan pendidikan dalam keluarga sebab pendidikan yang pertama dan utama diperoleh anak ialah dalam keluarga.

Peralihan bentuk pendidikan informal atau keluarga ke formal atau sekolah memerlukan kerjasama antara orangtua dan sekolah. Sikap anak terhadap sekolah akan dipengaruhi oleh sikap orangtua anak karena diperlukan kepercayaan orangtua terhadap sekolah yang menggantikan tugasnya selama di sekolah. Orangtua juga harus memperhatikan sekolah anaknya dengan memperhatian pengalaman dan menghargai usaha serta menunjukkan kerjasamanya dalam cara anak belajar di rumah atau membuat pekerjaan rumahnya (Hasan, 2009).

Memahami Gaya Belajar Anak Usia Dini

Photo Credits: parentmap.com

Anak memiliki dunia dan karakteristik tersendiri yang jauh berbeda dari dunia dan karakteristik orang dewasa. Anak itu sangat aktif, dinamis dan anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Rasa ingin tahu yang tinggi ini yang menunjukkan anak sudah memulai aktivitas belajar walaupun gaya belajar anak masih sebagian besar dilakukan dengan bermain.

Bermain merupakan suatu hal yang penting bagi anak, dengan bermain anak merasakan suatu kebahagiaan dan kegembiraan. Bermain bagi anak usia dini merupakan aktivitas yang sangat disenangi. Oleh sebab itu, prinsip pembelajaran pada anak yaitu belajar sambil bermain.

Bermain sambil belajar merupakan sistem pendidikan yang umum diterapkan di setiap lembaga pendidikan usia dini. Belajar merupakan bagaimana kita menerima informasi dari dunia sekitar kita dan bagaimana kita memproses dan menggunakan informasi tersebut. Menurut Kamtini (2005) mengatakan bermain ialah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa menggunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi, memberikan kesenangan atau mengembangkan imajinasi pada anak

Masa anak merupakan fase yang sangat fundamental atau berharga atau penting bagi perkembangan individu. Masa anak juga merupakan peluang besar untuk pembentukan dan pengembangan pribadi seseorang.

Anak didefinisikan sebagai individu unik karena tidak ada anak atau individu yang sama persis, baik secara fisik, psikis, dan lain-lain. Perbedaan anak juga terlihat dari gaya belajar karena gaya belajar pada anak berbeda satu dengan lain. Gaya belajar setiap anak dipengaruhi oleh faktor alamiah (pembawaan) dan faktor lingkungan. Manfaat mengetahui gaya belajar: (1). Dapat menentukan cara belajar yang lebih efektif, dan (2). Mengetahui bagaimana memanfaatkan kemampuan belajar secara maksimal sehingga hasil belajar yang diperoleh dapat optimal.

Booby de Porter, (1999) menyebutkan macam-macam gaya belajar pada anak usia dini, sebagai berikut:

1) Visual.

Gaya visual mengakses citra visual, yang diciptakan atau diingat. Adapun ciri–ciri gaya belajar visual, antara lain:

a) Teratur, memperhatikan segala sesuatu, menjaga penampilan

b) Mengingat dengan gambar, lebih suka membaca daripada dibacakan

c) Membutuhkan gambaran dan tujuan menyeluruh dan menangkap detail: mengingat apa yang dilihat.

2) Auditori.

Gaya auditorial mengakses segala jenis bunyi dan kata diciptakan dan diingat. Ciri-ciri gaya auditori, sebagai berikut:

a) Perhatiannya mudah terpecah.

b) Berbicara dengan pola berirama.

c) Belajar dengan cara mendengarkan, menggerakan bibir atau bersuara saat membaca.

d) Berdialog secara internal dan eksternal.

3) Kinestetik.

Gaya kinestetik mengakses segala jenis gerak dan emosi-diciptakan maupun diingat. Ciri-ciri gaya belajar kinestetik, antara lain:

a) Menyentuh orang dan berdiri berdekatan, banyak bergerak

b) Belajar dengan melakukan, menunjuk tulisan saat membaca, menanggapi secara fisik

c) Mengingat sambil berjalan dan melihat.

Prinsip belajar pada anak Anita Yus (2011:67) menjelaskan pelaksanaan pembelajaran untuk AUD dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip, sebagai berikut:

1) Berorientasi pada kebutuhan anak

2) Belajar melalui bermain

3) Kegiatan belajar mengembangkan dimensi kecerdasan secara terpadu

4) Menggunakan pendekatan klasikal, kelompok, dan individual

5) Lingkungan kondusif

6) Menggunakan berbagai model pembelajaran

7) Mengembangkan keterampilan hidup dan hidup beragama

8) Menggunakan media dan sumber belajar

9) Berorientasi kepada prinsip perkembangan dan belajar anak

Anak merupakan investasi atau harta berharga bagi orangtua. Orangtua ingin memberikan yang terbaik untuk anak dalam pendidikan, khususnya pendidikan anak usia dini. Pendidikan Anak Usia Dini harus berlandaskan pada kebutuhan anak, disesuaikan dengan nilai-nilai yang dianut di lingkungan di sekitarnya, sesuai dengan tahap perkembangan fisik dan psikologis anak, dilaksanakan dalam suasana bermain yang menyenangkan dan dirancang untuk mengoptimalkan potensi anak.

Bermain bagi anak usia dini merupakan aktivitas yang sangat disenangi. Oleh sebab itu, prinsip pembelajaran pada anak, yaitu belajar sambil bermain. Bermain sambil belajar merupakan sistem pendidikan yang umum diterapkan di setiap lembaga pendidikan usia dini. Bermain sambil belajar ada unsur gaya belajar, di mana gaya belajar setiap anak dipengaruhi oleh faktor alamiah (pembawaan) dan faktor lingkungan.

Suasana rumah harmonis dan demokratis, berarti orangtua tidak hanya menempatkan diri sebagai orangtua tetapi sebagai guru yang terbaik bagi anak serta hubungan orangtua dengan anak yang harmonis akan menentukan kemampuan belajar dan merangsang untuk mengembangkan kecerdasan. Sebaliknya, suasana rumah tidak harmonis dan tidak demokratis maka anak tidak dapat menentukan kemampuan belajar.

Referensi: Tri Suyati, Ellya Rakhmawati, Padmi Padmi Dhyah Yulianti



Lagu Dolanan Anak Sebagai Media Pendidikan Anak Usia Dini

Lagu anak tradisional dahulu sangat dikenal di kalangan anak-anak pada masa dekade 1960’an. Hal tersebut dikarenakan anak-anak memiliki waktu luang dan tempat untuk bermain serta bernyanyi secara bersama-sama. Anak-anak pada masa dekade tersebut banyak memiliki waktu luang sepulang sekolah karena belum disibukkan dengan kegiatan dan les berbagai macam mata pelajaran seperti sekarang ini. Anak-anak waktu itu juga memiliki fasilitas tempat yang luas, misalnya di lapangan, atau halaman rumah yang cukup luas.

Di samping itu, anak-anak pada masa itu belum memiliki permainan yang beraneka ragam seperti sekarang ini, sehingga anak-anak bermain dengan fasilitas yang ada di sekitar mereka. Kebanyakan anak-anak bermain secara bersama-sama berkumpul di tengah lapang saat bulan purnama bersinar, mereka melakukan aneka permainan, ada yang berlarian, ada yang main petak umpet, ada yang juga yang melakukan permainan anak tradisional (dolanan anak), serta ada yang menyanyikan lagulagu dolanan anak.

Lagu Dolanan Anak Sebagai Media Pendidikan Anak Usia Dini

Photo Credits: solopos.com

Dolanan anak dahulu sangat populer. Hampir di setiap sudut kampung tampak sekerumunan anak dengan suka cita bermain dakon, gobaksodor, pasaran, congklak, jamuran, cublak-cublak suweng, sampai delikan (bersembunyi). Kadang mereka duduk-duduk sambil menanyikan lagu anak-anak yang sebetulnya sarat dengan pengetahuan dan nasehat. Hal tersebut biasanya dilakukan pada hari libur dan malam hari ketika bulan purnama.

Kesempatan bernyanyi dan bermain yang dimiliki anak-anak masih longgar. Kelonggaran ini dikarenakan mereka belum disibukkan oleh bermacam kegiatan seperti saat sekarang, seperti les sekolah di sore hari, nonton televisi, atau mengikuti bimbingan belajar, dan sebagainya (Kedaulatan Rakyat Minggu, 17 Januari 2010, hal. 9). Di samping itu, lagu dolanan anak pada masa lalu sangat digemari anakanak, hal ini dikarenakan beberapa faktor.

Pertama, tanah lapang atau lahan yang masih luas, 2 memudahkan anak-anak untuk bermain bersama. Kedua, hubungan sosial yang sangat erat membuat mereka saling memiliki dan memiliki kebutuhan untuk berinteraksi satu sama lain. Sebagai makhluk sosial, anak pasti membutuhkan kehadiran orang lain. Hal ini juga dikuatkan oleh sistem kekerabatan masyarakat tradisional dengan sistem patembayan (gotong royong dan empati) yang dimiliki masyarakat Indonesia sebagai masyarakat agraris.

Lagu dolanan anak tradisional anak sepintas tersirat hanya melantunkan nada-nada, namun jika dikaji lebih dalam, lagu dolanan anak tradisional sarat pesan moral. Maka bermain yang dimaksud adalah menyanyikan lagu dolanan anak tradisional baik dengan gerak maupun tidak. Lagu dolanan anak tradisional merupakan lagu-lagu daerah yang biasa dinyanyikan oleh anakanak.

Lagu dolanan anak tradisional ialah tembang atau lagu yang biasanya dibawakan atau dinyanyikan oleh anak-anak dengan gembira serta untuk mengisi waktu di senja hari atau malam hari, antara lain antara lain lagu Jaranan, Kupu (Singarimbun, 1992. books.google.com). Sebagian besar masyarakat Jawa yang masih menggunakan bahasa Jawa pasti kenal dan akrab dengan lagu dolanan anak tradisional. Apabila lagu tersebut dihayati dapat dirasakan keindahan 7 alaminya. Alami karena penceritaannya berkenaan langsung dengan keadaan alam. Penuturannya lugas dan hidup sehingga kandungan lagunya terbayang nyata dan sangat mudah dimengerti oleh anak-anak. Dengan demikian dolanan anak tradisional dengan lagu-lagunya sangat sarat dengan pendidikan secara langsung.

Lagu dolanan anak tradisional dan dolanan anak tradisional dapat dijadikan sebagai alat pendidikan untuk anak-anak. Hal ini bisa dilakukan dengan waktu dan tempat kapan saja. Lagu dolanan anak dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu pengetahuan, nasehat atau penanaman sikap, dan ketrampilan fisik.

Ini sesuai dengan pembagian dalam taxonomi Bloom tentang ranah pendidikan knowledge, affective, dan pschomotor. Lagu dolanan anak juga sarat dengan pendidikan moral dan sosial, oleh karena itu dolanan anak sangat penting untuk dikenalkan pada anak usia dini yaitu usia pra sekolah dan usia sekolah. Melalui lagu dolanan anak tradisional, dapat dibentuk karakter yang seutuhnya.

Referensi : Yuli Sectio Rini, Universitas Negeri Yogyakarta



Konsep Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang Pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.

Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai usia 6 tahun. Usia ini merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 7). Usia dini merupakan usia di mana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat.

Usia dini disebut sebagai usia emas (golden age). Makanan yang bergizi yang seimbang serta stimulasi yang intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tersebut.

Konsep Pendidikan Anak Usia Dini

Photo Credits: telegraph.co.uk

Ada berbagai kajian tentang hakikat anak usia dini, khususnya anak TK diantaranya oleh Bredecam dan Copple, Brener, serta Kellough (dalam Masitoh dkk., 2005: 1.12 – 1.13) sebagai berikut.

  1.  Anak bersifat unik.
  2. Anak mengekspresikan perilakunya secara relatif spontan.
  3. Anak bersifat aktif dan enerjik.
  4. Anak itu egosentris.
  5. Anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan antusias terhadap banyak hal.
  6. Anak bersifat eksploratif dan berjiwa petualang.
  7. Anak umumnya kaya dengan fantasi.
  8. Anak masih mudah frustrasi.
  9. Anak masih kurang pertimbangan dalam bertindak.
  10. Anak memiliki daya perhatian yang pendek.
  11. Masa anak merupakan masa belajar yang paling potensial
  12. Anak semakin menunjukkan minat terhadap teman.

Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini

Secara umum tujuan pendidikan anak usia dini adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Secara khusus tujuan pendidikan anaka usia dini adalah (Yuliani Nurani Sujiono, 2009: 42 – 43):

  1. Agar anak percaya akan adanya Tuhan dan mampu beribadah serta mencintai sesamanya.
  2. Agar anak mampu mengelola keterampilan tubuhnya termasuk gerakan motorik kasar dan motorik halus, serta mampu menerima rangsangan sensorik.
  3. Anak mampu menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi secara efektif sehingga dapat bermanfaat untuk berpikir dan belajar.
  4. Anak mampu berpikir logis, kritis, memberikan alasan, memecahkan masalah dan menemukan hubungan sebab akibat.
  5. Anak mampu mengenal lingkungan alam, lingkungan social, peranan masyarakat dan menghargai keragaman social dan budaya serta mampu mngembangkan konsep diri yang positif dan control diri.
  6. Anak memiliki kepekaan terhadap irama, nada, berbagai bunyi, serta menghargai karya kreatif.

Prinsip-Prinsip Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan anak usia dini pelaksanaannya menggunakan prinsip-prinsip (Forum PAUD, 2007) sebagai berikut.

Berorientasi pada Kebutuhan Anak

Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis, yaitu intelektual, bahasa, motorik, dan sosio emosional.

Belajar melalui bermain

Bermain merupakan saran belajar anak usia dini. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan, memanfaatkan, dan mengambil kesimpulan mengenai benda di sekitarnya.

Menggunakan lingkungan yang kondusif

Lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sehingga menarik dan menyenangkan dengan memperhatikan keamanan serta kenyamanan yang dapat mendukung kegiatan belajar melalui bermain.

Menggunakan pembelajaran terpadu

Pembelajaran pada anak usia dini harus menggunakan konsep pembelajaran terpadu yang dilakukan melalui tema. Tema yang dibangun harus menarik dan dapat membangkitkan minat anak dan bersifat kontekstual. Hal ini dimaksudkan Create PDF with GO2PDF for free, if you wish to remove this line, click here to buy Virtual PDF Printer agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas sehingga pembelajaran menjadi mudah dan bermakna bagi anak.

Mengembangkan berbagai kecakapan hidup

Mengembangkan keterampilan hidup dapat dilakukan melalui berbagai proses pembiasaan. Hal ini dimaksudkan agar anak belajar untuk menolong diri sendiri, mandiri dan bertanggungjawab serta memiliki disiplin diri.

Menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar

Media dan sumber pembelajaran dapat berasal dari lingkungan alam sekitar atau bahan-bahan yang sengaja disiapkan oleh pendidik /guru. Menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar Pembelajaran bagi anak usia dini hendaknya dilakukan secara bertahap, dimulai dari konsep yang sederhana dan dekat dengan anak. Agar konsep dapat dikuasai dengan baik hendaknya guru menyajikan kegiatan–kegiatan yang berluang.

Referensi: Mujahidah Rapi, SH



Balita Inspirasi Bunda
Balita Bunda adalah kumpulan tulisan inspiratif dan bijak bermanfaat bagi bunda dalam memotivasi diri sehingga mendapatkan kembali semangat dalam kehidupan.

Bagikan ke Teman!